Selasa, 30 Oktober 2018

Refleksi Filsafat Ilmu UNY


Tulisan ini merupakan bentuk refleksi dari perkuliahan Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 18 September di ruang 1.01.1 pada pukul 15.45-17.25. Perkuliahan ini diampu oleh Bapak Prof., Dr. Marsigit, M. A. Seperti Biasa sebelum memualai perkuliahan, diawali dengan berdoa yang dipimpin langsung oleh Bapak Marsigit. Kemudian dilanjutkan dengan tes singkat. Perkuliahan kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab.
            Pemikiran tingkat dewa itu kerjakan pikiranmu dan pikirkanlah pekerjaanmu. Filsafat itu kerjakan pikiranmu, pikirkanlah pekerjaanmu, dan berdoalah. Sebenar-benarnya filsafat adalah berpikir. Seorang mahasiswa yang dating ke kampus setiap hari untuk kuliah, maka yang difikirkan adalah kuliah, fikirkan bagaimana caranya lulus, yang difikirkan adalah cita-cita bagaimana caranya menjadi seorang master, maka menjalankan program di dalam perkuliahan adalah hal yang harus dilakukan. Mendalami fikiran dan memikirkan perjalanan adalah yang harus di lakukan. Secara filsafat setengah di tambah setengah sama dengan satu, di tambah setengah lagi tetap satu. Itulah fikiran dan waktu. Bahayanya orang berfilsafat adalah berhenti di sembarang titik dan merasa jelas, karena kalau sudah jelas maka dia tidak akan berfikir lagi. Padahal sebenar-benar filsafat adalah berfikir.
            Apa yang dapat dilihat secara lahiriah itu adalah kualitas pertama, dan itu pun tergantung kepada kualitas mata yang memandang objek tersebut. Disebalik yang di lihat diri kita itu yang mana. Ketika kita memegang sesuatu dan ingin menunjukkan diri kita yang mana maka kita sudah menunjukkan ketidak adilan pada diri kita. Ketika kita menunjuk kepala, dengan mengatakan bahwa kita adalah kepala, maka kaki kita dianggap apa, tangan kita dianggap apa.
            Semua orang tidak adil dengan dirinya sendiri. Tidak satupun di dunia ini yang bisa menyebut dirinya sendiri kecuali Tuhan. Manusia tidak bisa menyebutkan diri sendiri. Dari sisi kelengkapan, diri kita itu semiliyar pangkat semiliyar manusia tidak dapat mencapai keseluruhan, yang benar-benar keseluruhan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Ketika kita menyebutkan seperempat saja, atau setengah saja, diri kita itu sudah berubah. Maka dari kecakupan kepribadian, kita tidak akan pernah bisa mencapai keseluruhan.
            Kalau dari sisi waktu, secara filsafat, waktu itu bisa dijabarkan menjadi waktu yang panjang dan waktu yang sempit, karena waktu itu mengalir. Waktu itu mengalir karena ada ruang, waktu itu benda, benda itu ruang, ruamg itu waktu. Sehingga kita semua mengalami perjalanan. Sebelum kita menunjukkandiri kita, kita akan berubah. Kita tidak akan pernah mengetahui segala sesuatu. Dan tidak akan pernah setiap orang mengetahui segala sesuatu. Orang yang ilmunya tinggi orang yang mengaku tidak mengetahui segala sesuatu. Hal tersebut diungkapka oleh Socrates. Kita sendiri tidak mengerti diri kita sendiri, maka pikiranmu, perasanmu, darahmu, tulangmu adalah kualitas berikutnya. Boleh kualitas kedua. Dan yang dilihat orang lain adalah kualitas pertama.
Jika dijabarkan satu persatu, maka diri kita tidak akan ada habisnya. Itulah yang disebut infinity grafe, yang ditemukan Aristotles. Sebenar-benar hidup adalah infinity grafe, bahwa diri kita ini adalah unlimited. Apa yang dapat dilihat adalah wakil dari dunia.  Dunia kita sama besarnya dengan dunia ini. Kita mewakili dunia. Betapa hebatnya kita. Untuk itu kita juga harus berhati-hati. Orang yang membunuh, itu berarti sudah membuat kiamat suatu dunia. Ketika kita mencari-cari kiamat, dengan membunuh kita sudah menciptakan kiamat. Sebagian besar orang tidak mengerti, tetapi mengaku mengerti.
Untuk mengetahui apakah kita mewakili dunia, dapat dilakukan dengan mengecek objek fikir melalui pertanyaan. Tidak ada alat yang dapat mendeteksi fikiran kita sehari-hari.  Ingin mengetahui dunia itu langit dan bumi ada alatnya.  Orang yang bodoh menggunakan alat yang sama untuk kondisi yang beda, sedangkan orang cerdas menggunakan alat sesuai dengan ruang dan waktunya. Ketika di sebutkan suatu kata misalkan Jakarta, maka dalam fikiran kita sudah dapat membayangkan seerti apa Jakarta. Apakah itu Ibukota Negara, monas dan lain sebagainya, yang dapat berupa pengalaman atau pengetahuan. Yang berarti pula kita sudah membawa dunia kedalam fikiran kita. Yang kesemuanya itu pula bentuk dari egaliter dan equality. Dan filsafat itu mulai dari hal yang tidak penting sampai kepada hal yang penting. Jika kita mengeleminasi mengambil hak berarti kita meruntuhkan dan membangun dunia. Jika kita kehilangan hak maka dunia kita runtuh.
Untuk mengerti diri kita sendiri yaitu kerjakan pikiranmu, pikirkan pekerjaanmu. Karena filsafat itu diri kita sendiri. Sebingung-bingungnya ada di dalam pikiran kita sendiri. Filsafat diri kita sendiri, spiritualitas adalah diri kita tetapi belum cukup. Doakan apa yang kamu kerjakan dan doakan apa yang kamu fikirkan. Jangan pernah ragu untuk berdoa. Silahkan sebarkan filsafat, karena filsafat adalah diri kita, bisa siapa saja. Muslim berfilsafat, nasrani berfilsafat, yahudi berfilsafat, sehingga ada orang yang mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi. Jika sudah seperti itu maka kita tidak perlu mendengarkan lagi, karena hal tersebut menuju fikiran sesat..  Cara untuk membatasi dari godaan adalah dimulai dari pikiran kita sendiri sesuai dengan keyakinan. Dogma adalah keyakinan. Jangan pernah menggambarkan spiritualitas dengan dunia, karena dunia tidak akan pernah mencukupi. Spiritualitas adalah perjalanan dunia menuju akhirat. Untuk itu, jangan menggambarkan akhirat dengan kuburan, karena kuburan itu adalah dunia infinitive. Begitu kita masuk tidak akan pernah kembali.
Untuk mencapai rendah hati yang sesungguhnya adalah ikhtiar, berusaha dan berserah diri pada Tuhan. Tidak ada makhluk yang dapat mengalahkan setan selain pertolongan Tuhan. Dan sedikit pun ada keraguan didalam hati, kita dapat menghilangkan kecuali atas kuasa Tuhan.  Sebenar-benarnya manusia adalah dalam keadaan berdoa. Setiap awalan selalu berdoa mengingat Tuhan, di tengah-tengah selalu istiqomah, di akhiri dengan dengan baik (khusnul qotimah). Melihat diakhiri dengan baik, mendengar diakhiri dengan baik, menulis diakhiri dengan baik. Esensi mengakhiri dengan baik adalah dengan rasa syukur. Padahal akhiran dalam filsafat adalah awalan. Sehingga rasa syukur boleh diawal ataupun diakhir.
Menyingkronkan hati dan pikiran, hati roda yang di bawah, dan pikiran adalah roda atas. Setiap hari itu perasan kita dan merasakan pikiran kita. Sebenar-benar hidup itu adalah sesuai dengan perintah Tuhan. Pada dasarnya hidup adalah kontradiksi, dan yang menjadi obat dari penyakit-penyakit filsafat itu adalah sopan terhadap ruang dan waktu.
Hati merupakan benda bawah, fikiran adalah benda atas. Perjalanan adalah roda yang berputar. Sehingga setiap hari kita perlu memikirkan perasaan kita, dan merasakan fikiran kita. Seperti bumi mengelilingi matahari, tidak akan pernah mencapai suatu titik. Maka sebenar-benar hidup adalah berjalan sesuai lintasan, seperti yang sudah dicontohkan Tuhan. Orang Yunani menyebutnya Hermeuneutika, sedangkan orang jawa menyebutnya Cokro mandringan. Sehingga perjalanan hidup itu adalah siklik linear. Sedangkan bagi orang Amerika hidup itu adalah Linear, sehingga terus mencari, seperti habis manis sepah dibuang.
            Sebenar-benar hidup adalah pilihan. Tidak ada manusia yang dapat hidup jika tidak memilih. Sebenar benar memilih itu adalah ikhtiar, dan jika sudah dipilih itu adalah takdir. Banyak hal yang tidak kita pilih dalam hidup kita tinggalkan. Yang tersisa hanya amal dan kenangan. Sebenar-benar hidup adalah memilih, perputaran antara ikhtiar dan takdir.  Interaksi antara amal perbuatan kita, maka di akhirat juga akan ada interaksi Karena diakhirat yang ada hanya amal kebaikan.
            Perkuliahan diakhiri dengan berdoa bersama-sama sebagai penutup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi Filsafat Ilmu UNY

Tulisan ini merupakan bentuk refleksi dari perkuliahan Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 18 September di ruang 1....