Tulisan ini merupakan bentuk refleksi
dari perkuliahan Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 18
September di ruang 1.01.1 pada pukul 15.45-17.25. Perkuliahan ini diampu oleh Bapak Prof., Dr. Marsigit, M. A. Seperti Biasa sebelum memualai perkuliahan,
diawali dengan berdoa yang dipimpin langsung oleh Bapak Marsigit. Kemudian
dilanjutkan dengan tes singkat. Perkuliahan kemudian dilanjutkan dengan tanya
jawab.
Pemikiran
tingkat dewa itu kerjakan pikiranmu dan pikirkanlah pekerjaanmu. Filsafat itu
kerjakan pikiranmu, pikirkanlah pekerjaanmu, dan berdoalah. Sebenar-benarnya
filsafat adalah berpikir. Seorang mahasiswa yang dating ke kampus setiap hari
untuk kuliah, maka yang difikirkan adalah kuliah, fikirkan bagaimana caranya
lulus, yang difikirkan adalah cita-cita bagaimana caranya menjadi seorang
master, maka menjalankan program di dalam perkuliahan adalah hal yang harus
dilakukan. Mendalami fikiran dan memikirkan perjalanan adalah yang harus di
lakukan. Secara filsafat setengah di tambah setengah sama dengan satu, di
tambah setengah lagi tetap satu. Itulah fikiran dan waktu. Bahayanya orang
berfilsafat adalah berhenti di sembarang titik dan merasa jelas, karena kalau
sudah jelas maka dia tidak akan berfikir lagi. Padahal sebenar-benar filsafat
adalah berfikir.
Apa
yang dapat dilihat secara lahiriah itu adalah kualitas pertama, dan itu pun
tergantung kepada kualitas mata yang memandang objek tersebut. Disebalik yang
di lihat diri kita itu yang mana. Ketika kita memegang sesuatu dan ingin
menunjukkan diri kita yang mana maka kita sudah menunjukkan ketidak adilan pada
diri kita. Ketika kita menunjuk kepala, dengan mengatakan bahwa kita adalah
kepala, maka kaki kita dianggap apa, tangan kita dianggap apa.
Semua
orang tidak adil dengan dirinya sendiri. Tidak satupun di dunia ini yang bisa
menyebut dirinya sendiri kecuali Tuhan. Manusia tidak bisa menyebutkan diri
sendiri. Dari sisi kelengkapan, diri kita itu semiliyar pangkat semiliyar
manusia tidak dapat mencapai keseluruhan, yang benar-benar keseluruhan adalah
Tuhan Yang Maha Esa. Ketika kita menyebutkan seperempat saja, atau setengah
saja, diri kita itu sudah berubah. Maka dari kecakupan kepribadian, kita tidak
akan pernah bisa mencapai keseluruhan.
Kalau
dari sisi waktu, secara filsafat, waktu itu bisa dijabarkan menjadi waktu yang
panjang dan waktu yang sempit, karena waktu itu mengalir. Waktu itu mengalir
karena ada ruang, waktu itu benda, benda itu ruang, ruamg itu waktu. Sehingga
kita semua mengalami perjalanan. Sebelum kita menunjukkandiri kita, kita akan
berubah. Kita tidak akan pernah mengetahui segala sesuatu. Dan tidak akan
pernah setiap orang mengetahui segala sesuatu. Orang yang ilmunya tinggi orang
yang mengaku tidak mengetahui segala sesuatu. Hal tersebut diungkapka oleh
Socrates. Kita sendiri tidak mengerti diri kita sendiri, maka pikiranmu,
perasanmu, darahmu, tulangmu adalah kualitas berikutnya. Boleh kualitas kedua.
Dan yang dilihat orang lain adalah kualitas pertama.
Jika dijabarkan satu
persatu, maka diri kita tidak akan ada habisnya. Itulah yang disebut infinity
grafe, yang ditemukan Aristotles. Sebenar-benar hidup adalah infinity grafe,
bahwa diri kita ini adalah unlimited. Apa yang dapat dilihat adalah wakil dari
dunia. Dunia kita sama besarnya dengan
dunia ini. Kita mewakili dunia. Betapa hebatnya kita. Untuk itu kita juga harus
berhati-hati. Orang yang membunuh, itu berarti sudah membuat kiamat suatu
dunia. Ketika kita mencari-cari kiamat, dengan membunuh kita sudah menciptakan
kiamat. Sebagian besar orang tidak mengerti, tetapi mengaku mengerti.
Untuk mengetahui apakah
kita mewakili dunia, dapat dilakukan dengan mengecek objek fikir melalui
pertanyaan. Tidak ada alat yang dapat mendeteksi fikiran kita sehari-hari. Ingin mengetahui dunia itu langit dan bumi ada
alatnya. Orang yang bodoh menggunakan
alat yang sama untuk kondisi yang beda, sedangkan orang cerdas menggunakan alat
sesuai dengan ruang dan waktunya. Ketika di sebutkan suatu kata misalkan
Jakarta, maka dalam fikiran kita sudah dapat membayangkan seerti apa Jakarta.
Apakah itu Ibukota Negara, monas dan lain sebagainya, yang dapat berupa
pengalaman atau pengetahuan. Yang berarti pula kita sudah membawa dunia kedalam
fikiran kita. Yang kesemuanya itu pula bentuk dari egaliter dan equality. Dan
filsafat itu mulai dari hal yang tidak penting sampai kepada hal yang penting. Jika
kita mengeleminasi mengambil hak berarti kita meruntuhkan dan membangun dunia.
Jika kita kehilangan hak maka dunia kita runtuh.
Untuk mengerti diri
kita sendiri yaitu kerjakan pikiranmu, pikirkan pekerjaanmu. Karena filsafat
itu diri kita sendiri. Sebingung-bingungnya ada di dalam pikiran kita sendiri.
Filsafat diri kita sendiri, spiritualitas adalah diri kita tetapi belum cukup.
Doakan apa yang kamu kerjakan dan doakan apa yang kamu fikirkan. Jangan pernah
ragu untuk berdoa. Silahkan sebarkan filsafat, karena filsafat adalah diri
kita, bisa siapa saja. Muslim berfilsafat, nasrani berfilsafat, yahudi
berfilsafat, sehingga ada orang yang mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi.
Jika sudah seperti itu maka kita tidak perlu mendengarkan lagi, karena hal
tersebut menuju fikiran sesat.. Cara
untuk membatasi dari godaan adalah dimulai dari pikiran kita sendiri sesuai
dengan keyakinan. Dogma adalah keyakinan. Jangan pernah menggambarkan spiritualitas
dengan dunia, karena dunia tidak akan pernah mencukupi. Spiritualitas adalah
perjalanan dunia menuju akhirat. Untuk itu, jangan menggambarkan akhirat dengan
kuburan, karena kuburan itu adalah dunia infinitive. Begitu kita masuk tidak
akan pernah kembali.
Untuk mencapai rendah
hati yang sesungguhnya adalah ikhtiar, berusaha dan berserah diri pada Tuhan.
Tidak ada makhluk yang dapat mengalahkan setan selain pertolongan Tuhan. Dan
sedikit pun ada keraguan didalam hati, kita dapat menghilangkan kecuali atas
kuasa Tuhan. Sebenar-benarnya manusia
adalah dalam keadaan berdoa. Setiap awalan selalu berdoa mengingat Tuhan, di
tengah-tengah selalu istiqomah, di akhiri dengan dengan baik (khusnul qotimah).
Melihat diakhiri dengan baik, mendengar diakhiri dengan baik, menulis diakhiri
dengan baik. Esensi mengakhiri dengan baik adalah dengan rasa syukur. Padahal
akhiran dalam filsafat adalah awalan. Sehingga rasa syukur boleh diawal ataupun
diakhir.
Menyingkronkan hati dan
pikiran, hati roda yang di bawah, dan pikiran adalah roda atas. Setiap hari itu
perasan kita dan merasakan pikiran kita. Sebenar-benar hidup itu adalah sesuai
dengan perintah Tuhan. Pada dasarnya hidup adalah kontradiksi, dan yang menjadi
obat dari penyakit-penyakit filsafat itu adalah sopan terhadap ruang dan waktu.
Hati merupakan benda
bawah, fikiran adalah benda atas. Perjalanan adalah roda yang berputar.
Sehingga setiap hari kita perlu memikirkan perasaan kita, dan merasakan fikiran
kita. Seperti bumi mengelilingi matahari, tidak akan pernah mencapai suatu
titik. Maka sebenar-benar hidup adalah berjalan sesuai lintasan, seperti yang
sudah dicontohkan Tuhan. Orang Yunani menyebutnya Hermeuneutika, sedangkan
orang jawa menyebutnya Cokro mandringan. Sehingga perjalanan hidup itu adalah
siklik linear. Sedangkan bagi orang Amerika hidup itu adalah Linear, sehingga
terus mencari, seperti habis manis sepah dibuang.
Sebenar-benar
hidup adalah pilihan. Tidak ada manusia yang dapat hidup jika tidak memilih.
Sebenar benar memilih itu adalah ikhtiar, dan jika sudah dipilih itu adalah
takdir. Banyak hal yang tidak kita pilih dalam hidup kita tinggalkan. Yang tersisa
hanya amal dan kenangan. Sebenar-benar hidup adalah memilih, perputaran antara
ikhtiar dan takdir. Interaksi antara
amal perbuatan kita, maka di akhirat juga akan ada interaksi Karena diakhirat
yang ada hanya amal kebaikan.
Perkuliahan
diakhiri dengan berdoa bersama-sama sebagai penutup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar